Terbaru

Peran Orang Tua dalam Perkembangan Anak

Marlius Telaumbanua | Foto: WartaNias
Seperti kita ketahui bersama anak merupakan aset utama dalam memajukan sebuah bangsa, karena anak adalah generasi penerus yang akan terus menata sebuah system dalam sebuah organisasi, ibarat dalam keluarga, anak merupakan penerus garis keturunan sekaligus cara eksistensi dari salah satu keturunan.

Terkhusus di Kepulauan Nias, dimana beberapa waktu terakhir ini, beberapa kejadian yang sangat membuat khayalak ramai terkejut karena ulah kenakalan para anak-anak dan remaja yang semakin memprihatinkan seperti kasus tawuran, geng motor, tindakan berbau porno, bahkan beberapa anak tanpa rasa malu mempertunjukkan kemesraan yang berlebihan kepada lawan jenis di media jejaring sosial.

Kejadian-kejadian ini tentunya dapat di jadikan sebagai bahan evaluasi bagi orang tua, tenaga pendidik, serta pihak berwenang lainnya dalam hal pengembangan anak, sehingga kedepannya anak tidak terjerumus dengan hal-hal negatif seperti yang di tuliskan di atas demi masa depan anak yang lebih baik.

Tidak di pungkiri khususnya di kepulauan Nias dengan mayoritas penduduknya sebagai orang tua dalah petani dan nelayan dengan tingkat sumber daya manusia yang masih sangat minim, tidak mampu mengontrol anak secara ekstensif, seperti contoh beberapa orang tua anak yang masih belum bisa membaca, berbahasa indonesia dan tidak mampu menggunakan bahkan tidak mengerti tentang layanan internet sehingga anak seakan-akan leluasa tanpa pengawasan mendapatkan konten-konten yang tak sewajarnya di dapatkan.

Beranjak dari permasalahan diatas, disini saya mencoba memberi sebuah gambaran tentang anak dan bagaimana mengembangkan mereka sehingga terciptalah anak-anak yang mampu merubah Nias ini dari segala keterpurukan menjadi jaya dan sejahtera 20 tahun kedepan.

Anak dan Perkembangannya
Seperti kita ketahui bersama, menurut para pakar dimana anak memiliki usia emas atau sering disebut dengan Golden Age yang artinya adalah  “masa-masa penting anak yang tidak bisa diulang”. Beberapa pakar menyebutkan sedikit perbedaan tentang rentang waktu masa golde age, yaitu 0-2 th, 0-3 th, 0-5 th atau 0-8 th, namun semuanya sepakat bahwa awal-awal tahun pertama kehidupan anak adalah masa-masa emas mereka. Pada masa-masa ini, kemampuan otak anak untuk menyerap informasi sangat tinggi. Apapun informasi yang diberikan akan berdampak bagi si anak di kemudian hari.

Hal tersebut senada dengan apa yang disampaikan oleh Brazelton seorang ahli Perkembangan dan Perilaku Anak dari Amerika bernama Brazelton di dalam sebuah penelitian menyebutkan bahwa pengalaman anak pada bulan dan tahun pertama kehidupannya sangat menentukan apakah anak ini akan mampu menghadapi tantangan dalam kehidupannya dan apakah ia akan menunjukkan semangat tinggi untuk belajar dan berhasil dalam pekerjaannya.

Agar masa keemasan ini termanfaatkan secara optimal, maka orangtua diharapkan dapat melakukan proses pengasuhan dan pendidikan dengan cara yang optimal pula. Selain kemampuan dan pengetahuan, orang tua juga memerlukan media pendukung untuk membantu proses tersebut.

Namun demikian, hal diatas bukan berarti para orang tua dan semua aspek yang punya peran dalam mengembangkan anak, hanya focus pada usia anak 0 – 8 tahun, tetapi harus terus menerus untuk memastikan anak menjadi benar-benar sesuai dengan yang di harapkan.

Hal ini di tegaskan oleh Erik Erikson dalam bukunya Childhood and Society (1963) dimana ada beberapa tahap perkembangan psikososial anak diantaranya di usia 6-12 Tahun yang di sebut dengan Industri Vs Inferioritas dimana pada tahap ini anak dapat menghadapi dan menyelesaikan tugas atau perbuatan yang akhirnya dan dapat menghasilkan sesuatu. Anak siap untuk meninggalkan rumah atau orangtua dalam waktu terbatas yaitu untuk sekolah. Melalui proses pendidikan ini anak belajar untuk bersaing (sifat kompetetif), juga sifat kooperatif dengan orang lain, saling memberi dan menerima, setia kawan dan belajar peraturan yang berlaku.

Berikutnya Erikson menjelaskan bahwa tahap selanjutnya yakni tahap usia 12-18 Tahun yang merupakan masa standarisasi atau disebut dengan Identitas vs Difusi Peran yaitu anak mencari identitas dalam bidang seksual, umur dan kegiatan, dimana di tahap ini Peran orangtua sebagai sumber perlindungan dan sumber nilai utama mulai menurun. Sedangkan peran kelompok atau teman sebaya tinggi. Teman sebaya di pandang sebagai teman senasib, patner dan saingan. Melalui kehidupan berkelompok ini remaja bereksperimen dengan peranan dan dapat menyalurkan diri. Remaja memilih orang-orang dewasa yang penting baginya yang dapat mereka percayai dan tempat mereka berpaling saat kritis.

Berdasarkan dari teori Erikson diatas, jika orang tua dan pihak berwenang lainnya tidak mampu mengawasi anak dengan baik pada usia 12-18 tahun tersebut, dapat di pastikan anak sangat cepat terjerumus ke hal negatif yang otomatis merusak masa depan si anak.

Oleh karena hal tersebut, disini saya mencoba menuangkan beberapa kesimpulan yang di kemukakan para ahli dalam hal pengembangan anak, dimana ada sedikitnya empat aspek yang harus menjadi fokus demi menciptakan anak yang berkualitas dan berakhlak baik, yaitu:


  1. Aspek Kognitif, yakni merupakan aspek yang membahas tentang pengetahuan anak atau sering disebut dengan kecerdasan intelektual, hal ini berarti orang tua harus memaksimalkan dan mendorong anak terus belajar, tidak hanya merasa puas ketika anaknya dapat membaca dan menulis tetapi mendorong anak belajar terus bukan hanya memastikan anak tidak bolos disekolah tetapi selalu mengawasi kemajuan dan cara belajar anak dirumah.
  2. Aspek Fisik, yakni merupakan aspek yang membahas tentang kesehatan jasmani anak, dimana anak untuk mendapatkan kecerdasan yang maksimal secara kognitif tentunya wajib mendapatkan asupan gizi yang baik, tempat tinggal yang layak serta lingkungan yang bebas dari segala jenis penyakit.
  3. Aspek Sosio Emosional, dimana di aspek ini, anak di bimbing untuk mampu bersosialisasi dan beradaptasi dilingkungan, sehingga anak tidak menjadi anak yang cuek dan tidak peduli dengan lingkungan sekitar, akibat konsentrasi penuh dalam hal mengembangkan kecerdasan intelektual semata, serta
  4. Aspek Spiritual yaitu, anak diajarkan dan dibimbing tentang akhlak dan sikap yang benar, serta menanamkan nilai-nilai spiritual untuk menghindari anak menyalah gunakan kemampuan dan pengetahuan yang dimiliki ke arah yang tidak baik, seperti menghindari anak menjadi teroris karena kesalahan dalam memahami nilai-nilai agama dan lain sebagainya.
Berdasarkan dari uraian diatas, kita dapat menyimpulkan bahwa, 4 aspek tersebut merupakan aspek yang tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lainnya dimana di mulai dari input (anak); proses perkembangan anak; output (keluaran) hingga sampai pada outcome (hasil yang ingin dicapai).

Oleh karena itu, penulis mempunyai harapan, dimana saatnya anak Nias di bimbing, dididik sesuai dengan 4 aspek diatas, sehingga kedepan Nias tidak tergolong lagi daerah tertinggal tetapi menjadi daerah yang maju dan pulau yang patut diteladani karena memiliki sumber daya manusia yang banyak dan handal dan mampu beradaptasi di segala aspek serta memiliki nilai-nilai spiritual yang tinggi.


Penulis:
Marlius Telaumbanua (Pemimpin Redaksi Media Online WartaNias.com)

 border=

Terbaru

Gunungsitoli

Nias

Nias Utara